السبت، 23 فبراير 2013

KHUTBAH IDUL ADHA : MAKNA QURBAN DAN TAKBIR DALAM KEHIDUPAN Oleh : H. Ja'far Musaddad

*ddfff


الله أكبر الله أكبر الله أكبر -   الله أكبر الله أكبر الله أكبر   -الله أكبر الله أكبر الله أكبر   - لا إله إلا الله والله أكبر   -الله أكبر ولله الحمد .الله أكبر عدد ما أحرم الحجاج  وعدد ما رفعوا بالتلبية لله الأصوات ،  الله أكبر عدد ما طافوا بالبيت العتيق وعظموا الحرمات ، الله أكبر عدد ما أراقوا من الدماء تعظيما لفاطر الأرض والسماوات ،    
الحمد لله الذي شرع لعباده التقرب إليه بذبح القربان ، وقرن النحر له بالصلاة في محكم القرآن ، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ذو الفضل والامتنان ، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله المصطفى على كل إنسان ،اللهم صل وسلم على سيدنا محمد سيد ولد عدنان  ،وعلى آله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان ، أما بعد : أيها الناس اتقوا الله تعالى حق تقاته ولا تموتن الا وانتم مسلمون ، الله أكبر ولله الحمد

Jama’ah yang dirahmati Allah.
Pagi hari ini bersama-sama dengan saudara-saudara kita sesama muslim, di belahan tempat lain, kembali kita mengumandangkan takbir tahlil dan tahmid. Bersyukur memuji asma-Nya mengesakan dzat-Nya dan mengangungkan kebesaran-Nya dalam suasana idul adha.
Hari yang mulia ini disebut dengan hari raya idul adha. Kata adha terambil dari kata udlhiyah yang memiliki arti  penyembelihan hewan. Karena pada hari raya idul adha, kepada kita disyariatkan untuk menyembelih hewan kurban yang dilaksanakan seusai pelaksanaan shalat ‘id sampai dengan terbenamnya matahari pada hari terakhir tasyriq yakni tanggal 13 Dzulhijjah. Syariat ini didasarkan pada ayat :
انّا أعطيناك الكوثر . فصلّ لربك وانحر
“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah”.
Perintah berkurban pada ayat tersebut,  dirangkai dengan perintah mendirikan shalat ‘id. Hal ini  memberikan arti  bahwa dalam merayakan hari raya ini mesti ada dua dimensi yang terpaut, menyatu, tidak bisa terpisah satu dari yang lain. yaitu dimensi Robbaniyah (ketuhanan) yang bersifat vertikal  dan dimensi Insaniyyah (kemanusiaan) yang bersifat horisontal. Dimensi ketuhanan adalah melaksanakan shalat id, sedang dimensi kemanusiaan adalah menyembelih hewan kurban untuk dibagikan kepada sesama terutama saudara-saudara kita yang membutuhkan. Dengan kata lain perintah ayat diatas mengisyaratkan bahwa merayakan hari raya idul adha belum cukup dengan hanya melaksanakan shalat id saja, melainkan harus dilanjut dengan upaya untuk berbagi kepada sesama. Islam  tidak menghendaki kita untuk bersenang-senang sendirian, tanpa peduli dengan sahabat, saudara dan handai taulan. Dan bukan kemuliaan, dalam pandangan Islam, apabila dalam hidup kita hanya memikirkan nasib diri sendiri, tanpa memikirkan nasib orang-orang  di kanan kiri. Islam mengajarkan kepada kita untuk boleh tersenyum tertawa, tetapi dengan tidak membiarkan orang lain menangis berurai air mata.
الله أكبر ولله الحمد
Hari raya idul adha juga disebut hari raya idul qurban. Kata qurban terdiri dari kata dasar ‘qurb’ yang artinya dekat. dan kata imbuhan ‘an’ yang artinya sempurna. Maka makna asal qurban adalah kedekatan yang sempurna. Penamaan hari raya ini dengan nama idul qurban dimaksudkan untuk mengingatkan kita kembali,  agar berupaya membangun kedekatan yang sempurna, dengan Allah SWT sang Pemilik jagat raya dengan cara ikhlas mengorbankan apa saja yang menjadi milik kita yang berharga, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Nabiyullah Ibrahim AS. Beliau mendapat perintah lewat mimpi untuk menyembelih putra yang sangat dicintainya. Tetapi kecintaannya kepada anak tidak mengalahkan keinginannya untuk dekat  kepada Allah SWT. Anak yang merupakan karunia yang paling berharga rela dipersembahkan dan tidak lagi menjadi sesuatu yang berarti  ketika diminta oleh Robbul Izzati. Beliau kemudiaan melaksanakan perintah itu, meski akhirnya karena kasih-Nya diganti dengan seekor domba.
Dengan pengorbanannya yang tulus inilah, beliau berhasil membangun kedekatan secara sempurna dengan Allah SWT. Dan berkat kedekatannya yang sempurna, beliau menyandang predikat Khalilullah (Kekasih Allah). Dan dengan predikat Khalilullah, apa yang menjadi keinginan dan dambaan hidupnya direalisasikan dan diwujudkan oleh Allah SWT. Yakni anak keturunannya dijaga akidahnya, menjadi generasi yang baik dan membanggakan, tempat tinggalnya di Mekkah dan daerah sekitarnya dijadikan negri yang aman dan makmur, serta menjadi negri yang dicenderungi dan dirindukan oleh setiap insan. Keinginan dan dambaan hidup beliau tersebut terekam dalam doa permohonannya
ربنا اني اسكنت من ذريتي بواد غير ذي زرع عند بيتك الحرام ، ربنا ليقيموا الصلاة فاجعل أفئدة من الناس تهوي اليهم وارزقهم من الثمرات لعلهم يشكرون.
         Kisah teladan Nabi Ibrahim AS ini,  memberikan ‘ibrah (pelajaran berharga) kepada kita, bahwa manakala keinginan, harapan, impian dan dambaan  hidup kita ingin terwujud dikabulkan oleh Allah SWT Yang Memiliki segalanya, maka tidak ada cara lain kecuali kita berupaya untuk membangun kedekatan dengan-Nya. Dan kedekatan dengan Allah ini dapat terwujud, manakala kita dengan tulus mengorbankan apapun yang kita punya yang berharga untuk kemanfaatan  orang lain. Karena itu Rasulullah SAW bersabda :
من كان له علم فليتصدق بعلمه ، و من كان له جاه فليتصدق بجاهه ، و من كان له قوة فليتصدق بقوته ،
Barang siapa yang memiliki ilmu pengetahuan, maka berkorbanlah dengan ilmu pengetahuannya. Barang siapa yang memiliki pangkat kedudukan, maka berkorbanlah dengan pangkat kedudukannya. Barang siapa yang memiliki tenaga kekuatan, maka berkorbanlah dengan tenaga kekuatannya.
الله أكبر ولله الحمد
Jama’ah ‘id yang dirahmati Allah.
Nama lain dari hari raya ini adalah ‘idul Akbar (hari raya besar) kebalikan dari ‘Idul Fitri yang disebut ‘Idul asghar (hari raya kecil). Kita orang jawa menyebutnya Raya Agung. Disebut ‘Idul Akbar karena memang syi’ar- syi’ar yang terdapat pada hari raya ini memiliki kedudukan yang besar dan agung . Salah satu bukti kebesaran dan keagungan syiarnya adalah disyariatkannya takbir (membesarkan Allah) dengan waktu yang  diperpanjang, yaitu semenjak subuh hari Arofah tanggal 9 Dzulhijjah kemarin, sampai dengan ashar hari akhir tasyriq tanggal 13 Dzulhijjah lusa.
Takbir memang kalimat dzikir yang hampir pada semua ibadah dan pada setiap moment selalu dibaca. Setiap hari dari masjid, muadzin mengumandangkan  paling sedikit tiga puluh kali  Allahu Akbar. Berulangkali kita membaca Allahu Akbar ketika shalat menyertai perpindahan dari rukun satu ke rukun yang lain. Pada saat bala tentara Islam maju ke medan perang juga diiringi pekikan Allahu Akbar. Ketika ada bayi yang baru lahir juga ada penyambutan dengan Allahu Akbar. Ketika menyembelih hewan kurban. Ketika mengiringi orang yang bepergiaan bahkan ketika kita menyaksikan perbuatan saudara kita yang mempesona, kita juga mengucapkan Allahu Akbar.
Mengapa kita seringkali diperintahkan untuk bertakbir membesarkan Allah ? Sampai-sampai pada suasana hari raya kitapun diperintahkan  untuk bersama-sama mengumandangkan takbir. Targetnya, selain menanamkan dalam jiwa kita akan kebesaran Allah dan kecilnya apapun yang kita miliki, apapun yang ada di dunia ini, adalah untuk menjaga diri kita supaya tidak jatuh kepada dosa yang mendatangkan murka dan kutukan yakni dosa takabbur. Yaitu membesarkan diri menyaingi kebesaran Allah SWT. Dalam hadis qudsi Allah mengingatkan :
العظمة ازاري والكبريآء ردائي فمن نازعني في واحد منهما ألقيته في النار
Keagungan itu busana-Ku. Kebesaran itu pakaian-Ku. Maka barang siapa yang menyaingi Aku dalam keagungan dan kebesaran-Ku, Aku akan melemparkannya ke neraka. 
Ada dua jenis takabbur pertama ;  بطرالحق (berpaling atau menolak kebenaran).  Contoh takabbur pertama adalah manakala  tidak mau menerima kebenaran, karena yang menyampaikan kebenaran orang kecil, atau orang miskin, atau orang yang kedudukannya dibawah. Bilamana merasa bahwa dirinya orang istimewa yang hukum apapun tidak berlaku untuknya. Termasuk didalamnya apabila tidak mau mendengar nasehat dari istri dan anak karena menganggap mereka lebih rendah . 
Kedua  غمط الناس   ( meremehkan atau merendahkan orang lain). Jenis takabbur yang kedua ini adalah jika mempunyai kekayaan lebih dari kebanyakan orang, kemudian membusungkan dada, memilih bergaul hanya dengan orang-orang yang setingkat, dan menganggap orang yang miskin tidak sederajat. Dan jika  berkuasa kemudian tega menyakiti hati orang-orang yang berada  di bawah kekuasaannya, menikmati kekuasaan diatas keringat, air mata dan darah orang-orang yang tak berdaya. Termasuk dalam kategori takabbur ini adalah perlakuan sewenang-wenang kepada keluarga dengan tidak mengindahkan kepedihan hati mereka.
Diatas dua takabbur diatas adalah takabbur yang paling berbahaya yaitu takabbur kepada Allah dan Rasul-Nya.  Takabbur kepada Allah  adalah naudzubillah apabila kita dengan tenang dan senang melakukan kemaksiatan kepada-Nya, apabila meremehkan perintah-Nya dan menyepelekan larangan-Nya. Dan takabbur kepada Rasulullah adalah apabila kita meremehkan sunahnya, merendahkan derajatnya, dan enggan untuk membaca salawat dan salam kepadanya.
أعوذ بالله من الشيطان الرجيم : { لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ كَذَلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ
وفقني الله وإياكم لتعظيم شعائره والعمل بشريعته إنه جواد كريم .
*) Khadim Majlis Nurul Musthafa Balerante Palimanan Cire

SPIRIT TAUHID ADALAH PEMBEBASAN DIRI DARI SEGALA PERBUDAKAN : Al-Baqarah-50


SPIRIT TAUHID ADALAH  PEMBEBASAN DIRI DARI SEGALA PERBUDAKAN
Tafsir al-Baqarah ayat : 50 Part 1

وَإِذْ فَرَقْنَا بِكُمُ الْبَحْرَ فَأَنْجَيْنَاكُمْ وَأَغْرَقْنَا آلَ فِرْعَوْنَ وَأَنْتُمْ تَنْظُرُون  (البقرة : 50 )
“Dan (ingatlah) ketika Kami menyelamatkan kamu dari (Fir’aun dan) pengikut-pengikut Fir’aun. Mereka menimpakan siksaan yang sangat berat kepadamu. Mereka menyembelih anak-anak laki-lakimu dan membiarkan hidup anak-anak perempuanmu. Dan pada yang demikian itu merupakan cobaan yang besar dari Tuhanmu”
Ayat ini merupakan rincian kedua dari nikmat yang Allah SWT anugerahkan kepada leluhur Bani Israil. Mereka bersama anak cucunya diselamatkan dari pengejaran Fira’un dan bala tentaranya, ketika melakukan eksodus meninggalkan Mesir menuju Sinai. Fir’aun dan bala tentaranya, musuh mereka yang sangat ditakuti dibinasakan. Dan kebinasaannya bukan hanya cerita semata, melainkan dengan mata kepala sendiri mereka saksikan. Ini adalah nikmat agung yang dianugerahkan, dimana  prosesi  peristiwanya merupakan mukjizat yang tak terulang, yang semestinya dapat menggugah mereka untuk bersyukur dan dapat menguatkan keimanan.

Eksodus Nabi Musa as bersama kaumnya Bani Israil yang diceritakan ayat tersebut, sungguh merupakan peristiwa heroik. Betapa tidak. Saat eksodus terjadi, dengan membawa serta kaumnya - yang menurut beberapa riwayat - berjumlah 600.000 orang, Nabi Musa as dengan sangat berani dan keteguhan hati keluar dari Mesir menuju Sinai. Dan demi menghindar dari lalu lalang kafilah sekaligus menjauhkan diri dari kejaran Fir’aun, beliau menempuh jalur yang tidak biasa ditempuh yaitu melalui pantai laut tengah yang jaraknya dekat hanya 250 mil menuju Sinai, tetapi menelusuri jalur arah tenggara yang lebih jauh yakni melalui Laut Merah. Celakanya eksodus itu tercium oleh Fir’aun dan kemudian Fir’aun  menyusul, mengejar dari belakang dengan menyertakan bala tentaranya yang berjumlah 1.000.000 orang. Beruntung mukjizat dari Allah SWT datang. Laut Merah yang membentang di hadapan Musa as dan kaumnya berubah menjadi daratan yang memudahkan mereka menyelamatkan diri dari kejaran. Di sisi lain Laut Merah itu menjadi kuburan bagi bala tentara Fir’aun.

Kegigihan dan keteguhan hati yang ditampilkan Nabi Musa as sebagaimana  dikemukakan di atas, tidak lain dan tidak bukan adalah karena spirit tauhid yang mengkristal di jiwa dan selalu berkobar di dada. Seperti yang tertera dalam surah Thaha, ketika Nabi Musa as berada di lembah suci Thuwa (innaka bil-wadil-muqoddasi thuwa), kemudian dinyatakan sebagai orang yang dipilih Allah SWT untuk menjadi rasul (utusan)-Nya dengan menerima risalah yang diwahyukan (wa ana-khtartuka fastami’ lima yuha), dan yang menjadi misi utama dari risalah itu adalah ajaran tauhid (pengesaan Tuhan) yang di-formulasi-kan melalui pernyataan tidak ada ilah kecuali Allah, yang harus di-implementasi-kan dengan pengkhususan penyembahan, pengabdian dan penghambaan hanya kepada-Nya (innani anal-Lahu la ilaha illa ana fa’budni), maka Nabi Musa as bertekad bulat mensukseskan prinsip tauhid itu yang konsekwensi logis-nya adalah memperjuangkan dan menegakkan faham persamaan kedudukan manusia. Manusia – dalam pandangannya – tidak patut tunduk dan menghamba kepada apapun dan siapapun. Manusia hanya patut tunduk dan menghamba kepada Allah SWT semata. Realitas yang dihadapi Nabi Musa as demikian kontradiktif dengan misi yang diembannya, dimana kaumnya (Bani Israil) saat itu dipandang hina, diperbudak, dijadikan hamba sahaya  oleh Fir’aun. Berbagai upaya dilakukan Musa as untuk mengangkat harkat martabat kaumnya dan membebaskannya dari tirani Fir’aun, dan pada puncaknya atas petunjuk dan perintah Allah SWT Nabi Musa as  eksodus dari Mesir negeri di mana kaumnya diperbudak, menuju Sinai negeri yang menjamin kebebasan. Allah SWT berfirman dalam QS. As-Syu’ara  : 52

وَأَوْحَيْنَا إِلَى مُوسَى أَنْ أَسْرِ بِعِبَادِي إِنَّكُمْ مُتَّبَعُونَ
“Dan Kami wahyukan (perintahkan) kepada Musa : Pergilah di malam hari dengan membawa hamba-hamba-Ku (Bani Israil) karena sesungguhnya kamu sekalian akan disusul”
Alhasil prinsip tauhid adalah menghambakan atau memperbudak diri kepada Allah SWT dan melepas diri dari segala perbudakan kepada siapapun dan kepada apapun. Prinsip tauhid bukan cuma diemban Nabi Musa as beserta kaumnya, tetapi menjadi tuntutan bagi semua umat manusia, karena prinsip tauhid merupakan  misi utama sekaligus ajaran pokok para rasul yang diutus ke dunia, sebagaimana isyarat Allah SWT dalam surah Al-Anbiya : 25

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُون
“Kami tidak mengutus rasul sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: Bahwasanya tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku”
Selain Allah SWT yang harus dinegasikan (dinafikan) dalam konteks kehidupan Nabi Musa as dan kaumnya menjadi obyek menyembahkan diri (memperbudak diri) adalah Fir’aun, sedang dalam konteks kehidupan kita sekarang adalah hawa nafsu. Allah SWT mengingatkan kita agar kita tidak menghambakan diri (memperbudak diri) kepada hawa nafsu melalui firman-Nya :
أَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ أَفَأَنْتَ تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلًا
“Sudahkah engkau (Muhammad) melihat orang yang menjadikan keinginannya (hawa nafsunya) sebagai tuhannya. Apakah engkau akan menjadi pelindungnya?” (QS. Al-Furqan : 43)
Pertanyaannya kemudian adalah : Sudahkah kita dengan gigih dan keteguhan hati membebaskan diri dari perbudakan yang dilakukan oleh hawa nafsu, sebagaimana dahulu Musa as dan kaumnya dengan gigih dan keteguhan hati membebaskan diri dari perbudakan yang dilakukan Fir’aun. Kita harus selalu bertanya, agar tauhid yang sering kita akui tidak dipertanyakan.
Wallahu ‘alam.

RAHASIA DIBALIK EMPAT PULUH MALAM : Al-Baqarah-51



وَإِذْ وَاعَدْنَا مُوسَى أَرْبَعِينَ لَيْلَةً ثُمَّ اتَّخَذْتُمُ الْعِجْلَ مِنْ بَعْدِهِ وَأَنْتُمْ ظَالِمُونَ  (البقرة : 51 )
“Dan (ingatlah), ketika kami berjanji kepada Musa (memberikan Taurat, sesudah) empat puluh malam, lalu kamu menjadikan anak lembu (sembahan) sepeninggalnya dan kamu adalah orang-orang yang zalim”

Ayat ini merupakan uraian yang ketiga dari nikmat Allah swt yang diberikan kepada Bani Israil. Peletakan ayat ini beriringan dengan ayat sebelumnya mengisyaratkan adanya korelasi integratif (hubungan kesatuan yang tidak terpisahkan) diantara keduanya. Dimana pada ayat sebelumnya, Allah swt mengkisahkan penyelamatan Bani Israil dari pengejaran Fir’aun dan kaumnya yang merupakan nikmat penyelamatan jasmani. Sedang pada ayat ini, Allah swt mengungkapkan janji-Nya memenuhi harapan Bani Israil untuk memiliki kitab suci sebagai pedoman hidup, sesuai dengan permintaan  mereka,  yang  merupakan nikmat penyelamatan ruhani.
Dalam hal janji untuk menurunkan  kitab suci Taurat kepada Nabi Musa as sebagai pedoman kehidupannya dan kehidupan  umatnya (Bani Israil),  Allah swt menuntut tamhid (introduksi/upaya pendahuluan) kepada Nabi Musa as dalam bentuk keharusan melaksanakan munajat (menghadapkan diri) lebih dulu selama waktu yang ditentukan,  yakni selama 40 (empat puluh) malam. Hal ini sesuai dengan isyarat penggunaan  kata kerja ‘fi’il’ yang menunjuk arti ‘janji’ pada ayat di atas ‘waa’adna’ dalam bentuk mufa’alah yang berfaedah musyarakah (persekutuan dua fihak dalam satu pekerjaan). Secara sederhana dapat diilustrasikan, seakan-akan Allah swt berfirman : “Wahai Musa! Aku berkenan memberimu Taurat, kitab suci yang engkau inginkan buat pedoman hidupmu dan umatmu, dengan catatan engkau laksanakan lebih dulu munajat kepada-Ku selama empat puluh malam”. Mengapa bargaining munajat untuk memperoleh kitab suci dilakukan selama empat puluh hari ‘arba’in’ ? Dan mengapa pula pelaksanaannya pada malam hari ‘lailatan’ ?
Angka empat puluh ‘arba’in’ adalah angka yang menunjukkan kesempurnaan dalam banyak hal, sebagaimana  disebutkan pada teks-teks keagamaan baik dalam al-Quran maupun al-Hadis. Diantaranya adalah: Pertama; Proses penciptaan manusia pertama (Adam as) – diungkapkan hadis riwayat Ibn Mas’ud ra dalam Tafsir Ibn Katsir – peniupan ruh ke kerangka jasad berselang waktu 40 tahun. Kedua; Fase (tahapan) penciptaan manusia dalam rahim ibunya, dari fase nuthfah (sperma), ‘alaqah (gumpalan darah yang menempel di dinding rahim), mudhghah (sekerat daging) hingga ke peniupan ruh, masing-masing berlangsung selama 40 hari. ‘Inna ahadakum yujma’u khalqahu fi bathni ummihi arba’ina yauman tsumma takunu ‘alaqatan mitsla dzalik tsumma takunu mudghatan mitsla dzalik’ Ketiga; Akal manusia pada umumnya mencapai tingkat kesempurnaan potensinya pada usia 40 tahun. ‘Hatta idza balagha asyuddahu wa balagha arba’ina sanah’ (al-Ahqaf : 15). Karena itu junjungan kita Nabi Muhammad saw pun dinyatakan sebagai rasul pada saat beliau telah berusia 40 tahun. Keempat; Orang yang menghafal dan mengamalkan kandungan 40 hadis akan dibangkitkan bersama para ulama. ‘Man hafidza ‘ala ummati arba’ina haditsan fi ma yanfa’uhum min amri dinihim ba’atsahul-Lahu yaumal-qiyamati minal-‘ulama’ Kelima; Orang yang mengamalkan shalat 40 waktu di masjid Nabawi akan selamat dan terbebas dari siksa api neraka serta terbebas dari nifaq. ‘Man shalla fi masjidi arba’ina shalatan la yafutuhu shalatun kutibat lahu baraatun minan-nar wa najatun minl-‘adzab wa bari-a minan-nifaq’ . Alhasil angka 40 bukan hanya sekedar menunjuk kwantitas (jumlah) semata, melainkan dibaliknya terdapat rahasia. Yakni  ketika melewati kurun waktu 40 hari kondisi ruhani Nabi Musa as telah berada dalam keadaan yang sempurna dan benar-benar telah siap untuk menerima kitab yang mulia.  Karena itu tidak heran jika dikalangan Para Salikin (orang-orang yang merambah jalan menuju Allah swt) dikenal maqamat (stasiun-stasiun persinggahan ruhani) sejumlah 40, seperti yang dilakukan oleh Tokoh Sufi Jawa, Sultan Hadiwijaya yang masyhur dengan sebutan Jaka Tingkir, yang divisualisasikan lewat kisah penaklukannya terhadap 40 ekor buaya. Dikalangan para kyai pun angka 40 kerap digunakan untuk meriyadlah (melatih) jiwa santri-santrinya, seperti anjuran berjama’ah selama 40 hari berturut-turut, dan melakukan amalan-amalan wirid atau puasa selama 40 hari lamanya.
Selanjutnya disebutkannya waktu malam hari ‘lailatan’, paling tidak dilatar belakangi dua alasan. Pertama;  malam hari adalah waktu yang paling baik digunakan untuk bermunajat (menghadapkan diri) kepada Allah swt, oleh karena suasanananya yang gelap dan hening serta tidak adanya aktifitas apapun, sehingga dapat membantu melahirkan ketenangan batin dan kekhusukan jiwa dalam menghadap kepada Allah swt. Kedua;  malam hari adalah waktu dimana orang-orang yang sore hari lumrahnya melakukan maksiat, kelelahan dan tertidur tanpa lebih dulu menjalani tobat. Maka jika pada saat yang sama, ada hamba-Nya yang bermunajat, Allah swt tentu akan lebih bermurah hati mencurahkan rahmat. Karena itulah maka Allah swt dalam beberapa firman-Nya menganjurkan manusia untuk menghadapkan diri pada malam hari. Bahkan Rasulullah saw pun secara lugas menyatakan dalam sabdanya :  
ينزل ربنا تبارك وتعالى في كل ليلة إلى السماء الدنيا حين يبقى ثلث الليل الآخر فيقول : من يدعوني فأستجيب لَه من يسألني فأعطيه من يستغفرني فأغفر لَه
“Tuhan turun ke langit dunia pada setiap malam di sepertiga malam terakhir, kemudian berfirman : Siapakah yang berdoa kepada-Ku, maka Aku kabulkan. Siapakah yang memohon kepada-Ku, Aku penuhi permohonannya. Siapakah yang meminta ampunan kepada-Ku, Aku ampuni dirinya”

Pelajaran dari yat ini, adalah : Jika Nabi Musa as saja yang berpredikat sebagai kalimul-Lah dan salah seorang ulul-azmi, untuk mendapatkan keinginannya melakukan bargaining bermunajat kepada Allah swt selama 40 hari. Wajarkah bila kita menginginkan sesuatu hanya dengan bermodalkan topang dagu? Istafti qalbak!.

PELAJARAN DARI PENYELAMATAN BANI ISRAIL : Al-Baqarah - 49


PELAJARAN DARI PENYELAMATAN BANI ISRAIL
Tafsir al-Baqarah ayat : 49 Part 1

وَإِذْ نَجَّيْنَاكُمْ مِنْ آلِ فِرْعَوْنَ يَسُومُونَكُمْ سُوءَ الْعَذَابِ يُذَبِّحُونَ أَبْنَاءَكُمْ وَيَسْتَحْيُونَ نِسَاءَكُمْ وَفِي ذَلِكُمْ بَلَاءٌ مِنْ رَبِّكُمْ عَظِيمٌ   (البقرة : 49 )
“Dan (ingatlah) ketika Kami menyelamatkan kamu dari (Fir’aun dan) pengikut-pengikut Fir’aun. Mereka menimpakan siksaan yang sangat berat kepadamu. Mereka menyembelih anak-anak laki-lakimu dan membiarkan hidup anak-anak perempuanmu. Dan pada yang demikian itu merupakan cobaan yang besar dari Tuhanmu”
Ayat ini di-athaf-kan (disambungkan) pada ayat ke 47 yang lalu yaitu ‘udzkuru ni’mati’ (ingatlah nikmat-Ku) min bab al-‘athf al-mufashal ‘ala al-mujmal (tergolong persambungan pernyataan yang bersifat rincian pada pernyataan yang bersifat global). Maka kandungan ayat ini menjadi bagian dari nikmat, yang Allah swt perintahkan/serukan kepada Bani Israil untuk diingat. Kendati peristiwa penyelamatan Bani Israil dari penindasan Fir’aun yang ditunjuk ayat di atas terjadi pada zaman Nabi Musa as, tetapi orang-orang Bani Israil di zaman Nabi Muhammad saw diperintahkan untuk mengingatnya. Karena mereka yang ada sekarang adalah kelanjutan/ keturunan dari mereka yang ada pada saat itu. Andaikan penindasan waktu itu berlanjut terus, tidak dihentikan Allah swt, maka komunitas Bani Israil akan habis dan tidak tersisa di muka bumi saat sekarang ini. Maka di balik peristiwa penyelamatan terdapat dua nikmat/anugerah.  Minnatun ‘alas-salaf (Anugerah kepada Para Pendahulu yang dirasakan langsung). Wa Minnatun ‘alal-khalaf (Anugerah kepada Para Penerus sebagai imbas dari Anugerah kepada Para Pendahulu). Karenanya menjadi kewajiban bagi seluruh Bani Israil disetiap generasinya,  tidak hanya tertentu pada generasi yang mengalaminya, untuk mensyukuri peristiwa penyelamatan tersebut. Sebagaimana  dalam sari’at mereka terdapat keharusan untuk menyelenggarakan ihtifal (perayaan) berkenaan dengan hari-hari diturunkannya nikmat Allah swt dahulu, termasuk di dalamnya hari penyelamatan dari penindasan Fir’aun yang kejam. Allah swt megisyaratkan dalam firman-Nya :
وَذَكِّرْهُمْ بِأَيَّامِ اللَّهِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ (ابرهيم : 5)

“Dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah. Sungguh pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi setiap orang penyabar dan banyak bersukur”

Kata ‘ayyamil-Lah’ pada ayat tersebut ditafsirkan oleh  as-Syaikh Ibnu Asyur dengan hari-hari di mana pada hari-hari itu Allah swt menyelamatkan Bani Israil, memberi pertolongan, serta memudahkan jalan pada mereka dalam meraih kemenangan.

Logika ayat ke 49 di atas, menginformasikan bahwa prosesi penyelamatan Bani Israil merupakan campur tangan Allah yang benar-benar nyata dan jelas. Betapa tidak demikian. Semua anak laki-laki yang lahir dari rahim perempuan-perempuan Bani Israil saat itu, diintruksikan oleh Fir’aun untuk dibunuh. Dan cara membunuhnya adalah  dengan  disembelih, supaya dapat dipastikan tidak ada satupun  keturunan laki-laki Bani Israil yang hidup, yang kelak menjadi pemimpin, yang melakukan revolusi pembebasan bangsanya. Intruksi Fir’aun tersebut didasarkan pada mimpi buruknya sebagaimana diuraikan as-Syaikh As-Sya’rawi dalam tafsirnya :

فلقد رأى فرعون نارا هبت من ناحية بيت المقدس فأحرقت كل المصريين ولم ينج منها غير بني إسرائيل. فلما طلب فرعون تأويل الرؤيا. قال له الكهان يخرج من ذرية إسرائيل ولد يكون على يده نهاية ملكك. فأمر القوابل (الدايات) بذبح كل مولود ذكر من ذرية بني إسرائيل  
Sungguh Fir’aun bermimpi menjumpai api menyala dari wilayah Bait al-Maqdis, kemudian api itu membakar seluruh kota dan tidak ada seorangpun penduduknya yang selamat, kecuali Bani Israil. Ketika Fir’aun menanyakan tentang ta’wil (arti) mimpinya, para Peramal berkata : “ akan lahir dari keturunan Bani Israil seorang anak, yang kelak di tangannya kerajaanmu akan dihabiskan”. Maka kemudian Fir’aun mengintruksikan kepada para dukun bayi untuk menyembelih setiap bayi laki-laki yang lahir dari keturunan Bani Israil.
Tetapi Allah swt menunjukkan kekuasaan-Nya sekaligus ketidak berdayaan Fir’aun dan para pengikutnya kepada Bani Israil dan seluruh manusia, dengan menyelamatkan seorang putra bernama Musa as yang kelak melakukan revolusi, justru ke pangkuan Fir’aun itu sendiri. 
وَأَوْحَيْنَا إِلَى أُمِّ مُوسَى أَنْ أَرْضِعِيهِ فَإِذَا خِفْتِ عَلَيْهِ فَأَلْقِيهِ فِي الْيَمِّ وَلَا تَخَافِي وَلَا تَحْزَنِي إِنَّا رَادُّوهُ إِلَيْكِ وَجَاعِلُوهُ مِنَ الْمُرْسَلِينَ (7) فَالْتَقَطَهُ آلُ فِرْعَوْنَ لِيَكُونَ لَهُمْ عَدُوًّا وَحَزَنًا إِنَّ فِرْعَوْنَ وَهَامَانَ وَجُنُودَهُمَا كَانُوا خَاطِئِين
“ Dan kami ilhamkan kepada ibu Musa: “Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai (nil). Dan janganlah kamu khawatir dan janganlah pula bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya salah seorang dari Rasul. Maka dipungutlah ia oleh keluarga Fir’aun yang akibatnya dia menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka. Sesungguhnya Fir’aun dan Haman beserta tentaranya adalah orang-orang yang bersalah”

Selanjutnya urgensitas penyebutan nikmat penyelamatan Bani Israil dari kekejaman Fir’aun, setidaknya –sebagaimana dinyatakan al-Imam ar-Razi- di dasarkan pada dua hal prinsip yang patut direnungkan.
Pertama ; Penderitaan paling besar  yang dialami umat manusia adalah penderitaan yang disebabkan oleh tirani dan kedzaliman Penguasa. Maka terbebasnya Bani Israil dari penderitaan itu, merupakan nikmat/anugerah yang besar. Harusnya Bani Israil memahami, kemudian mensyukuri dengan cara tunduk dan taat kepada Allah swt Sang Pemberi nikmat. Karena :

عَظْمُ النِّعْمَةِ يُوْجِبُ المُبَالَغَةَ فِي الطَّاعَةِ وّالْبُعْدِ عَنِ الْمَعْصِيَّةِ
“Keagungan nikmat mengharuskan seseorang untuk memaksimalkan ketundukan dan menjauh dari kemaksiatan”.
Kedua ; Nasib Bani Israil saat itu berada pada limit kehinaan, sementara musuhnya (Fir’aun dan Para Pengikutnya) berada pada puncak kemuliaan.  Tetapi kemudian Allah swt membalik keadaan, dengan memuliakan Bani Israil karena mereka berpegang pada kebenaran, dan menghinakan musuhnya, karena musuhnya berada pada kebatilan. Harusnya Bani Israil mengerti dengan tidak terpedaya oleh kekuatan mereka, karena mereka saat ini dalam kebatilan. Dan tidak meremehkan umat Islam, karena mereka dalam kebenaran. Sebab sangat mungkin Allah swt akan membalik keadaan sebagaimana dahulu Dia lakukan. Karena :

وَمَنْ كَانَ الْحَقُّ اِلَى جَانِبِهِ فَاِنَّ الْعَاقِبَةَ  لاَ بُدَّ  أَنْ تَكُوْنَ لَهُ

“Barangsiapa dipihaknya terdapat kebenaran, maka pasti kesudahannya, kemenangan berada dipihaknya”.
Renungan itu bukan hanya untuk Bani Israil saja, tetapi untuk diri kita juga. Karena hukum Allah swt berlaku kapan saja dan di mana saja serta pada siapa saja. Dahulu kita sangat menderita ditindas oleh penjajah berabad-abad lamanya, kemudian berkat rahmat Allah yang Maha Kuasa kita terbebas merdeka. Bukankah ini nikmat yang tiada tara? Lalu sudahkan kita mensyukurinya? Dahulu kita lemah, dan penjajah kuat. Tetapi kita berada dalam kebenaran karena memperjuangkan keadilan, sedang penjajah berada dalam kebatilan karena mereka bertindak sewenang-wenang. Kemudian Allah memberi kita kemenangan karena kebenaran yang kita pegang.  Apakah saat ini kita masih memegang kebenaran dengan memperjuangkan keadilan? Sehingga Allah swt tidak akan membalik keadaan. Renungkanlah!!!