السبت، 23 فبراير 2013

SPIRIT TAUHID ADALAH PEMBEBASAN DIRI DARI SEGALA PERBUDAKAN : Al-Baqarah-50


SPIRIT TAUHID ADALAH  PEMBEBASAN DIRI DARI SEGALA PERBUDAKAN
Tafsir al-Baqarah ayat : 50 Part 1

وَإِذْ فَرَقْنَا بِكُمُ الْبَحْرَ فَأَنْجَيْنَاكُمْ وَأَغْرَقْنَا آلَ فِرْعَوْنَ وَأَنْتُمْ تَنْظُرُون  (البقرة : 50 )
“Dan (ingatlah) ketika Kami menyelamatkan kamu dari (Fir’aun dan) pengikut-pengikut Fir’aun. Mereka menimpakan siksaan yang sangat berat kepadamu. Mereka menyembelih anak-anak laki-lakimu dan membiarkan hidup anak-anak perempuanmu. Dan pada yang demikian itu merupakan cobaan yang besar dari Tuhanmu”
Ayat ini merupakan rincian kedua dari nikmat yang Allah SWT anugerahkan kepada leluhur Bani Israil. Mereka bersama anak cucunya diselamatkan dari pengejaran Fira’un dan bala tentaranya, ketika melakukan eksodus meninggalkan Mesir menuju Sinai. Fir’aun dan bala tentaranya, musuh mereka yang sangat ditakuti dibinasakan. Dan kebinasaannya bukan hanya cerita semata, melainkan dengan mata kepala sendiri mereka saksikan. Ini adalah nikmat agung yang dianugerahkan, dimana  prosesi  peristiwanya merupakan mukjizat yang tak terulang, yang semestinya dapat menggugah mereka untuk bersyukur dan dapat menguatkan keimanan.

Eksodus Nabi Musa as bersama kaumnya Bani Israil yang diceritakan ayat tersebut, sungguh merupakan peristiwa heroik. Betapa tidak. Saat eksodus terjadi, dengan membawa serta kaumnya - yang menurut beberapa riwayat - berjumlah 600.000 orang, Nabi Musa as dengan sangat berani dan keteguhan hati keluar dari Mesir menuju Sinai. Dan demi menghindar dari lalu lalang kafilah sekaligus menjauhkan diri dari kejaran Fir’aun, beliau menempuh jalur yang tidak biasa ditempuh yaitu melalui pantai laut tengah yang jaraknya dekat hanya 250 mil menuju Sinai, tetapi menelusuri jalur arah tenggara yang lebih jauh yakni melalui Laut Merah. Celakanya eksodus itu tercium oleh Fir’aun dan kemudian Fir’aun  menyusul, mengejar dari belakang dengan menyertakan bala tentaranya yang berjumlah 1.000.000 orang. Beruntung mukjizat dari Allah SWT datang. Laut Merah yang membentang di hadapan Musa as dan kaumnya berubah menjadi daratan yang memudahkan mereka menyelamatkan diri dari kejaran. Di sisi lain Laut Merah itu menjadi kuburan bagi bala tentara Fir’aun.

Kegigihan dan keteguhan hati yang ditampilkan Nabi Musa as sebagaimana  dikemukakan di atas, tidak lain dan tidak bukan adalah karena spirit tauhid yang mengkristal di jiwa dan selalu berkobar di dada. Seperti yang tertera dalam surah Thaha, ketika Nabi Musa as berada di lembah suci Thuwa (innaka bil-wadil-muqoddasi thuwa), kemudian dinyatakan sebagai orang yang dipilih Allah SWT untuk menjadi rasul (utusan)-Nya dengan menerima risalah yang diwahyukan (wa ana-khtartuka fastami’ lima yuha), dan yang menjadi misi utama dari risalah itu adalah ajaran tauhid (pengesaan Tuhan) yang di-formulasi-kan melalui pernyataan tidak ada ilah kecuali Allah, yang harus di-implementasi-kan dengan pengkhususan penyembahan, pengabdian dan penghambaan hanya kepada-Nya (innani anal-Lahu la ilaha illa ana fa’budni), maka Nabi Musa as bertekad bulat mensukseskan prinsip tauhid itu yang konsekwensi logis-nya adalah memperjuangkan dan menegakkan faham persamaan kedudukan manusia. Manusia – dalam pandangannya – tidak patut tunduk dan menghamba kepada apapun dan siapapun. Manusia hanya patut tunduk dan menghamba kepada Allah SWT semata. Realitas yang dihadapi Nabi Musa as demikian kontradiktif dengan misi yang diembannya, dimana kaumnya (Bani Israil) saat itu dipandang hina, diperbudak, dijadikan hamba sahaya  oleh Fir’aun. Berbagai upaya dilakukan Musa as untuk mengangkat harkat martabat kaumnya dan membebaskannya dari tirani Fir’aun, dan pada puncaknya atas petunjuk dan perintah Allah SWT Nabi Musa as  eksodus dari Mesir negeri di mana kaumnya diperbudak, menuju Sinai negeri yang menjamin kebebasan. Allah SWT berfirman dalam QS. As-Syu’ara  : 52

وَأَوْحَيْنَا إِلَى مُوسَى أَنْ أَسْرِ بِعِبَادِي إِنَّكُمْ مُتَّبَعُونَ
“Dan Kami wahyukan (perintahkan) kepada Musa : Pergilah di malam hari dengan membawa hamba-hamba-Ku (Bani Israil) karena sesungguhnya kamu sekalian akan disusul”
Alhasil prinsip tauhid adalah menghambakan atau memperbudak diri kepada Allah SWT dan melepas diri dari segala perbudakan kepada siapapun dan kepada apapun. Prinsip tauhid bukan cuma diemban Nabi Musa as beserta kaumnya, tetapi menjadi tuntutan bagi semua umat manusia, karena prinsip tauhid merupakan  misi utama sekaligus ajaran pokok para rasul yang diutus ke dunia, sebagaimana isyarat Allah SWT dalam surah Al-Anbiya : 25

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُون
“Kami tidak mengutus rasul sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: Bahwasanya tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku”
Selain Allah SWT yang harus dinegasikan (dinafikan) dalam konteks kehidupan Nabi Musa as dan kaumnya menjadi obyek menyembahkan diri (memperbudak diri) adalah Fir’aun, sedang dalam konteks kehidupan kita sekarang adalah hawa nafsu. Allah SWT mengingatkan kita agar kita tidak menghambakan diri (memperbudak diri) kepada hawa nafsu melalui firman-Nya :
أَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ أَفَأَنْتَ تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلًا
“Sudahkah engkau (Muhammad) melihat orang yang menjadikan keinginannya (hawa nafsunya) sebagai tuhannya. Apakah engkau akan menjadi pelindungnya?” (QS. Al-Furqan : 43)
Pertanyaannya kemudian adalah : Sudahkah kita dengan gigih dan keteguhan hati membebaskan diri dari perbudakan yang dilakukan oleh hawa nafsu, sebagaimana dahulu Musa as dan kaumnya dengan gigih dan keteguhan hati membebaskan diri dari perbudakan yang dilakukan Fir’aun. Kita harus selalu bertanya, agar tauhid yang sering kita akui tidak dipertanyakan.
Wallahu ‘alam.

ليست هناك تعليقات:

إرسال تعليق